BALAI7.NET
- Penyebab runtuhnya jembatan di Desa Lungkuh Layang, Kecamatan Timpah, Kapuas,
Kalteng masih belum diketahui. Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum (PU)
masih melakukan penyelidikan ambrolnya rangka jembatan tersebut.
"Tim kami masih memeriksa, nanti kita sampaikan penjelasan resminya," Dirjen
Bina Marga Departemen PU Hermanto Dardak, Minggu (5/4/2009).
Hermanto menduga lemahnya titik-titik pertemuan rangka menjadi penyebab
ambrolnya jembatan yang akan segera diresmikan tersebut.
"Saya menduga masalahnya di buhul-buhul, karena itu adalah titik temu kekuatan
rangka. Beban matinya di situ"
Seperti diberitakan, rangka bagian tengah jembatan di sungai terpanjang di
Indonesia itu runtuh pada Jumat 3 April lalu. Kejadian ini cukup mengherankan
pemerintah daerah setempat karena jembatan sepanjang 255 meter ini baru saja
dicor dua hari yang lalu.
Kalteng Pos Online - Penyebab ambruknya jembatan Sungai Kapuas di Desa Lungkuh Layang, Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas, Jumat (3/4) belum bisa dipastikan. Tim Pusat dari Departemen Pekerjaan Umum (PU) langsung datang ke lokasi dan melihat langsung kerangka yang patah di bagian bentang tengah itu.
�Penyebab runtuhnya jembatan masih diselidiki. Untuk mengetahui apakah ada masalah konstruksi, desain dan masalah lainnya perlu beberapa waktu,� kata Dirjen Bina Marga Direktur Wilayah Timur Kasubdit Wilayah II DR Jawali Marbun, Sabtu (4/4).
Ia menyebut kedatangan timnya yang berjumlah empat orang --sebelum personel lainnya direncanakan datang juga dari Jakarta, bukan untuk mencari siapa yang salah. Namun untuk mencari tahu langsung apa yang sebenarnya terjadi, mengingat jembatan yang digarap PT Agrabudi Karyamarga itu secara teknis pembinaannya ada di bawah Dep. PU.
Kedatangan tim ini pun menurutnya dilakukan secara spontan begitu mendengar jembatan yang konstruksinya disebut non standar dan baru diterapkan di Indonesia ini ambruk, tiga hari menjelang diresmikan. Konstruksi jembatan sejenis hanya ada di Kalimantan Timur (Kaltim) dan tak bermasalah. �Sekalipun ini program APBD tapi kami ingin membantu. Biarkanlah tim bekerja, kasih waktu untuk itu,� ucap Jawali.
Yang paling utama untuk dilakukan saat ini, ucapnya, melakukan evakuasi reruntuhan konstruksi rangka baja yang melintang di tengah sungai agar lalu lintas air tidak terganggu dan jangan sampai ada korban lagi. Sebab, bangunan masih bergerak. Artinya, pengaruh arus air sungai dan posisi jembatan cukup tinggi, jika terkena angin bisa berbahaya.
Terpaan angin masih berpotensi mendorong terjadinya kerusakan lanjutan. Ancaman runtuhnya sisa-sisa jembatan dengan panjang 255 meter panjang ini bukan omong kosong.
Sementara rombongan tim Dep. PU bersama Wakil Gubernur Ir Achmad Diran didampingi Asisten II Sekda Provinsi Kalteng Ir Tagah Pahoe, Kepala Dinas PU Provinsi Kalteng Ben Brahim dan sejumlah media melihat dari dekat kondisi jembatan yang sebagian konstruksinya seperti tersobek di bagian sisi jembatan sebelah kanan atas dari arah jalan Palangka Raya � Buntok ini beberapa kali bunyi 'kretek-kretek' seperti sesuatu yang mau runtuh terdengar.
�Jangan terlalu dekat dengan jembatan, kondisinya masih sangat berbahaya bisa saja nanti tertimpa reruntuhan,� tegur Ben kepada rombongan.
Sebagai langkah pengaman agar warga yang berada di sekitar feri penyeberangan tidak mendekati lokasi runtuhnya jembatan, di pasang police line (garis polisi berwarna kuning).
Sementara itu, Diran tak terlalu banyak komentar. Ia hanya menyebut pihaknya sangat prihatin dengan kejadian tersebut. Terlebih jembatan ini menewaskan satu pekerja, Miskan (55) warga Desa Pangkoh II Kecamatan Pandai Batu Kabupaten Pulang Pisau. Pekerja nahas ini tertimpa runtuhan jembatan ketika berada dibawah jembatan saat musibah terjadi.
Pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, sebut Diran, serius memandang masalah ini kendati ia pun mengaku belum bisa menyimpulkan apa-apa terkait ambruknya jembatan bernilai kontrak Rp 28.198.500.000 itu.
�Penyebabnya masih diteliti. Yang penting kita semua ikut berbelangsukawa karena meninggalnya Miskan, semoga arwahnya diterima di sisi Allah,� ujarnya singkat.
Sebelumnya, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang SH langsung melakukan sidak, sekitar pukul 18.30 WIB begitu tahu jembatan runtuh. Gubernur bertolak dari Kabupaten Pulang Pisau langsung menuju ke Desa Lungku Layang Kecamatan Timpah bersama beberapa rombongan.
Sebagai informasi, jembatan di sungai Kapuas Kecamatan Timpah ini dikerjakan PT Agrabudi Karyamarga mulai 27 Februari 2007 dan rencananya sampai 15 Agustus 2009 atau 900 hari kalender. Kegiatan pembangunan langsung dibawah Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalteng, dengan nilai kontrak Rp 28.198.500.000.
Jembatan ini akan menghubungkan Kota Palangka Raya-Buntok. Data teknis jembatan yakni nama Jembatan Sungai Kapuas, panjang total 255 meter, kelas jembatan A, lebar jembatan tujuh meter, pondasi pipa baja diameter 600 mm tebal 10 mm, lantai jembatan beton K-350, pilar dan abutment beton K-250.
Ada empat jembatan yang sedang dibangun dalam kontrak APBD proyek multi years , dua sudah selesai yakni Jembatan Murui di Bagugus dan Jembatan Mangkutup di Bukit Batu. Rencananya, paling lambat awal tahun 2010 Jalan Palangka Raya-Buntok sepanjang 197 km akan terhubung seluruhnya.
Semua pembangunan jembatan ini dibiayai dari APBD provinsi dan APBD kabupaten dan kota. Saat peresmian dua jembatan yang sudah selesai, Kadis PU Kalteng, Ben Brahim menjelaskan pembangunan dua jembatan itu telah dimulai sejak 2006. Tahun anggaran 2006 dan 2007 untuk Jembatan Murui baru mampu memasang 20 tiang pancang.
Baru tahun 2008 dan 2009 melalui kontrak multi years dan bantuan dari Departemen PU akhirnya bisa diselesaikan. Kontrak pembangunan jembatan ini sebenarnya sampai 31 April 2009. Karena permintaan Gubernur dipercepat, akhirnya dua jembatan ini bisa digunakan 28 Maret 2009. (ust)
Saat ini, Februari 2009 masih dalam proses pembangunan ulang